Rabu, 18 November 2015

Program Studi Perbandingan Agama "Dihapus"

Program Studi Perbandingan Agama "Dihapus"

PENDIDIKAN
YOGYAKARTA,(PRLM).- Konferensi Studi Agama merekomendasikan "penghapusan" program studi Perbandingan Agama (PA) dan diganti dengan Studi Agama-agama (SAA) atau Religious Studies.
Keputusan tersebut mengakhiri program studi PA yang dicanangkan dan dirintis pakar perbandingan agama dan penggagas kerukunan antarumat.beragama, Prof Mukti Ali, pada tahun 1961.
Penggantian nama PA menjadi SAA dilengkapi dengan pembentukan Asosiasi Studi Agama Indonesia atau ASA Indonesia dan usulan kepada Menteri Agama tentang penyeragaman gelar seluruh sarjana agama menjadi sarjana.agama (S.Ag.).
Dalam pernyataannya kepada "PRLM", Minggu (16/11/2014), Ketua Panitia Simposium Nasional Asosiasi Keilmuan dan Konferensi Studi Agama-agama Ahmad Salehudin menyatakan perubahan PA menjadi SAA berkaitan dengan perkembangan negatif studi PA.
Selama lebih dari 50 tahun, program studi PA berhasil mencetak sarjana-sarjana agama yang memiliki pemahaman keagamaan yang toleran dan transformatif dan berperan strategis dalam mendorong kerukunan antarumat beragama.
"Masalah timbul karena PA dann kiprahnya semakin terlupakan, baik oleh masyarakat maupun negara. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena jurusan perbandingan agama tidak mengajarkan kemampuan tehnis yang kompatibel dengan dunia kerja dan industri."
Karena terpinggirkan, peminat studi PA semakin sedikit jumlahnya. "Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada Jurusan Perbandingan Agama," kata dia.
Dalam simposium yang dipelopori oleh program studi Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat-Sabtu, 14-15 Nopember 2014, para pengelola program studi PA sepakat membentuk program studi SAA.
Mereka yang bersepakat, adalah para pakar dan peminat studi agama, serta Ketua dan Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama se-Indonesia, yaitu IAIN Antasari Banjarmasin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Ar Ranieri Aceh, IAIN Raden Intan Lampung, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Walisongo Semarang, UIN Alaudin Makassar, UIN Syarif Hidayutullah Jakarta, UIN Syarif Kasim Riau, STAIN Langsa Aceh, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada, dan tuan rumah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pasca perubahan statuta tersebut, para pengelola program studi SAA sepakat melakukan aksi darurat untuk mendorong peningkatan minat studi agama-agama dalam bentuk affirmative action untuk dosen SAA dalam bentuk beasiswa studi lanjut , kemampuan bahasa, short course, penelitian, dan publikasi.
Kemudian mengusulkan formasi khusus alumni PA/SAA dalam penerimaan CPNS, mengusulkan kepada pemerintah untuk mewajibkan mata kuliah agama-agama menjadi mata kuliah wajib nasional bagi setiap jurusan/prodi di PTAI, pemberian gelar ganda.atau double degree bagi mahasiswa non peserta program studi “SAA” yang berminat mendalami studi agama-agama. (A-84/A-89)***
PENDIDIKAN
YOGYAKARTA,(PRLM).- Konferensi Studi Agama merekomendasikan "penghapusan" program studi Perbandingan Agama (PA) dan diganti dengan Studi Agama-agama (SAA) atau Religious Studies.
Keputusan tersebut mengakhiri program studi PA yang dicanangkan dan dirintis pakar perbandingan agama dan penggagas kerukunan antarumat.beragama, Prof Mukti Ali, pada tahun 1961.
Penggantian nama PA menjadi SAA dilengkapi dengan pembentukan Asosiasi Studi Agama Indonesia atau ASA Indonesia dan usulan kepada Menteri Agama tentang penyeragaman gelar seluruh sarjana agama menjadi sarjana.agama (S.Ag.).
Dalam pernyataannya kepada "PRLM", Minggu (16/11/2014), Ketua Panitia Simposium Nasional Asosiasi Keilmuan dan Konferensi Studi Agama-agama Ahmad Salehudin menyatakan perubahan PA menjadi SAA berkaitan dengan perkembangan negatif studi PA.
Selama lebih dari 50 tahun, program studi PA berhasil mencetak sarjana-sarjana agama yang memiliki pemahaman keagamaan yang toleran dan transformatif dan berperan strategis dalam mendorong kerukunan antarumat beragama.
"Masalah timbul karena PA dann kiprahnya semakin terlupakan, baik oleh masyarakat maupun negara. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena jurusan perbandingan agama tidak mengajarkan kemampuan tehnis yang kompatibel dengan dunia kerja dan industri."
Karena terpinggirkan, peminat studi PA semakin sedikit jumlahnya. "Kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada Jurusan Perbandingan Agama," kata dia.
Dalam simposium yang dipelopori oleh program studi Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat-Sabtu, 14-15 Nopember 2014, para pengelola program studi PA sepakat membentuk program studi SAA.
Mereka yang bersepakat, adalah para pakar dan peminat studi agama, serta Ketua dan Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama se-Indonesia, yaitu IAIN Antasari Banjarmasin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Ar Ranieri Aceh, IAIN Raden Intan Lampung, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Walisongo Semarang, UIN Alaudin Makassar, UIN Syarif Hidayutullah Jakarta, UIN Syarif Kasim Riau, STAIN Langsa Aceh, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada, dan tuan rumah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pasca perubahan statuta tersebut, para pengelola program studi SAA sepakat melakukan aksi darurat untuk mendorong peningkatan minat studi agama-agama dalam bentuk affirmative action untuk dosen SAA dalam bentuk beasiswa studi lanjut , kemampuan bahasa, short course, penelitian, dan publikasi.
Kemudian mengusulkan formasi khusus alumni PA/SAA dalam penerimaan CPNS, mengusulkan kepada pemerintah untuk mewajibkan mata kuliah agama-agama menjadi mata kuliah wajib nasional bagi setiap jurusan/prodi di PTAI, pemberian gelar ganda.atau double degree bagi mahasiswa non peserta program studi “SAA” yang berminat mendalami studi agama-agama. (A-84/A-89)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar